Virus penyakit DBD takluk di tangan seorang asisten apoteker



Fachrul Luthfi,pria paruh baya, warga Pontianak Kalimantan Barat, lulusan sekolah asisten apoteker, menemukan resep yang dapat membunuh virus demam berdarah. Obat racikannya tersebut dibuat dari herbal dan telah di ujicoba sedikitnya pada puluhan penderita dan terbukti ampuh. Obat ini sementara diberi nama Formav-D (Formulasi anti-virus demam berdarah).

Menurutnya, obat itu ditemukan secara tidak sengaja. Setelah tidak lagi bekerja di perusahaan farmasi, dia masih melakukan 'hobi' dalam meracik obat, baik obat lokal maupun obat impor. Sejumlah kerabat dekat yang mengetahui latar belakang pendidikannya sering memanfaatkan kemampuannya ini untuk meminta dibuatkan obat alternatif.

“Awalnya saya tidak begitu yakin ini anti virus DBD karena penyakit ini belum ada obatnya. Tetapi, karena saya memberikan obat formulasi herbal ini kepada seorang kerabat yang demam. Ternyata, setelah diberikan obat ini demamnya langsung turun dan stabil sekalipun hanya diberikan satu kali,

Bahan-bahan obat ini adalah herbal tradisional. Jadi, tidak ada efek samping bagi pengguna, itulah pemikiran yang ada di benak saya, sehingga berani melakukan pengujian terhadap orang yang sedang menderita DBD,” ujar warga yang bekerja sebagai Penanggung Jawab Pedagang Besar Farmasi Kalbar ini.

Sampai sekarang, lebih lanjut dikatakannya, sudah puluhan orang yang telah merasakan khasiat dari obat racikannya. Bahkan, di Agustus 2009 lalu, khasiat obat ini juga dibuktikan oleh seorang dokter yang bertugas di salah satu puskesmas dan klinik di Kota Pontianak. Dokter yang saat itu terserang DBD juga mengonsumsi obat ini dan sembuh dengan cepat.

Setelah dilakukan tes laboratorium, parameter trombosit dan kekentalan darah (HCT) menunjukkan perbaikan yang signifikan,” katanya. Dengan meminum Formav-D, demam yang diderita pengidap DBD dapat segera hilang dalam waktu relatif singkat. Kondisi pasien langsung stabil, tidak lagi fluktuatif sebagaimana ketika dirawat secara konvensional.

Sayangnya, hingga sekarang belum ada pengakuan atau hak paten dengan obat temuannya itu. Namun pada Jum'at (12/3), Fachrul Luthfi datang ke kantor Kimia Farma di Jalan Veteran Jakarta. Sungguh bahagianya dia lantaran perusahaan tersebut memberikan respon yang sangat positif. Formula hasil racikanya tersebut akan dilakukan dengan pengujian serta penelitian lebih lanjut, kemudian dalam tiga hingga enam bulan hasil dari pengkajiannya akan segera dikeluarkan, serta pembiayaan seluruhnya ditanggung Kimia Farma.

Sumber:
www.jpnn.com
www.jawapos.co.id


Baca juga Artikel yang ini: