Jas Hitam Pak Jokowi Kok di Perdebatkan ?

Gara-gara kancing Jas hitam Pak Jokowi tidak terpasang, ujung dasi kelihatan menyembul sehingga menjadi perdebatan oleh para haters and lovers di Kompasiana dan media sosial lainnya. Heran!. sampai terbit pula di media mainstream.

jas-hitam-jokowi-jadi-masalah

Kalau sudah jadi pemimpin besar setara presiden, semuanya jadi sorotan masyarakat. Untung saja saat tidur di istana, Pak Jokowi tidak di liput media kalau sempat entah apa komentar haters and lovers.  

Pak Jokowi beruntung sering mengenakan jas, tidak seperti saya, yang hanya baru tiga (3) kali memakai jas. Pertama waktu wisuda Akper, kedua waktu menikah dan ketiga saat wisuda sarjana keperawatan (S.Kep).

Memakai Jas hitam ketika wisuda S.Kep
Saya yakin, ketika jadi walikota Solo, saat menjabat gubernur DKI dan sedang jadi Presiden RI, pak Jokowi sudah terbiasa mengenakan Jas, bahkan nyaris ratusan kali atau tak terhitung pernah memasang jas dan dasi di tubuhnya. Namun, baru perdana saat berkunjung ke Brunai Darussallam ia kecolongan dari jepretan kamera. Yakni kancing bawah tak terpasang maka "offside" lah ujung dasi, dan si wartawan the brunei times pun mengupload gambar tersebut ke ranah berita, seperti tidak ada gambar yang lain.

Sebenarnya tidak bisa juga wartawannya disalahkan, karena memang itu yang membuat beritanya jadi menarik, dan menjadi referensi oleh media lain.

Yang jadi  dilema itu adalah si tukang kritik, kayak udah pintar aja mengenakan Jas. Emang udah berapa kali menggunakan?

Saya menganggap itu hal biasa, tidak jadi masalah asalkan pak Jokowi merealisasikan janji-janji kampanyenya. Kalaupun pak jokowi tidak menepati janji, saya juga tidak mempermasalahkan Jas hitam yang dasinya menyembul, karena cara  saya berpakaiaan belum tentu lebih baik dari beliau.

Dan, yang penting sekali cukup kritik kebijakan pak Jokowi yang tidak pro rakyat atau tagih janji yang belum ia wujudkan. Bukan saat ia kecolongan dalam berpakaian, kesannya gunjingan dan gosip murahan.

Salam netral, 
No haters, No Lovers.
Anton Wijaya, hanya realistis.