Tinggalkan Pekerjaan Nyaman, Deni Atmam Memilih Bisnis Kopi, Ini Kisahnya

Medianers ~ Sempat menggeluti pekerjaan sebagai kuasa hukum disebuah perusahaan nasional di Jakarta, untuk wilayah kerja Sumatera, lalu Deni Atmam, SH meninggalkan semua kenyamanan itu, banting stir, balik kampung menjadi pengusaha kopi, hingga mengembangkan waralaba dengan brand Gubuk Coffee yang tersebar di-15 cabang, dalam lima propinsi dan ini kisah lengkapnya memulai usaha.

Merintis Usaha Kopi dari Hulu Hingga Hilir

"Saya memulai usaha ini pertama kali dengan mendirikan Gubuk Coffee Cafe, pada awal tahun 2014," kata Deni Atmam memulai pembicaraan dengan Medianers di Gubuk Coffee Cafe miliknya, yang terletak di jalan Sudirman No. 75 Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Tepatnya, saling berhadapan dengan kampus STIT.

Sembari meneguk Ice Gubuk Coffee Original suguhannya, Jumat (30/3), Medianers mencatat cerita Deni Atmam bahwa, "keluar dari zona nyaman tentunya tidak mudah, butuh nyali dan mental baja. Namun, saya mengambil tantangan tersebut untuk berusaha mengasah jiwa entrepeneur, sebab tahun 2014 itu belum ada kopi waralaba di Kota Payakumbuh, maupun di Sumatera Barat, termasuk cafe kopi original," ungkap sumando rang Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh tersebut.

Melihat peluang dan tantangan demikian, berbekal dari pengalaman semasa kecil di kampung halamannya yang terkenal dengan penghasil kopi Arabica dan Robusta, yaitu di Kenagarian Lolo, Kecamatan Pantai Cermin, kabupaten solok, maka Deni menggali potensi tersebut dengan membeli kopi petani lokal, lalu mengolah dengan perangkat mesin kopi original, untuk roasting (pembakaran) biji kopi dan mesin pengolah lainnya.

"Setelah saya beli biji kopi dari hulunya, yakni dari Lolo, kabupaten Solok, lalu diproses dihilir, yakni di Kota Payakumbuh, dan disajikan di grup Gubuk Coffee Cafe," tambah Deni.

Mengembangkan Waralaba Gubuk Coffee

Satu tahun berproses, Deni Atmam mulai mengembangkan usaha waralaba Gubuk Coffee, tepatnya awal tahun 2015. Ia membuka sistim usaha waralaba bagi peminat dan pengusaha kopi di Sumatera Barat, maupun di pulau Sumatera. "Saat ini, Gubuk Coffee Cafe telah hadir di lima belas cabang, dan lima propinsi di pulau Sumatera," katanya.

Target kedepannya, Deni Atmam mengaku akan melebarkan sayap hingga pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, bahkan manca negara. Ia berkeinginan kuat, menghadirkan rasa nikmat kopi Arabica dan Robusta Lolo ke seluruh dunia. Dengan prinsip, " untuk menikmati kopi original, tidak harus mahal," katanya.

Untuk mewujudkan impiannya itu, Deni Atmam membangun visi, yakni "menjadi waralaba coffee shop lokal terbesar dan terbaik di Indonesia 2026," ungkapnya.

Membangun Kemitraan Dengan Petani Kopi dan Melihat Pasar Luar Negri

Selain menjadi waralaba kopi shop terbesar tanah air, Deni juga berkeinginan kuat akan membangun kemitraan dengan petani kopi lokal, serta membangun titian hati dengan konsumen pecinta kopi lokal.

" Menghadirkan kopi berkualitas dari hasil pertanian kopi lokal terbaik adalah tujuan saya, dan saya dengan tim membangun titian hati dengan konsumen, maupun dengan petani kopi, termasuk dengan mitra usaha dan para pemangku kepentingan, sehingga terjalin loyalitas, komitmen dan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan," ungkapnya.

Awal tahun 2018 ini, Deni Atmam juga telah merencanakan menambah satu lagi perangkat pengolah biji kopi, seperti perangkat roasting, beserta kemasan untuk dipasarkan baik secara online maupun offline. Targetnya pasar luar sumatera dan luar negri.

"Jika saya menggarap dan melebarkan usaha seperti menjual kopi asli dalam bentuk kemasan, baik secara online maupun offline, maka perlu menambah satu perangkat mesin pengolah, karena mesin yang ada saat ini tidak kuat lagi," katanya.

Ia menambahkan, "tahun ini, saya berencana menambah satu perangkat mesin dimaksud, untuk menjawab ketersediaan kopi, sebab hingga tahun ini kebutuhan grup Gubuk Coffee hampir 2 ton di tahun 2017, dengan rincian 1,5 ton kopi Arabica dan Robusta dari Lolo, dan 500 kg kopi varian luar yang kami pasarkan di Cafe," katanya.

Diusung Menjadi Calon Anggota DPRD Kabupaten Solok

Terkait desas-desus Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Deni Atmam konon kabar bakal maju menjadi Caleg (Calon Legislatif) daerah pemilihan (dapil) 4 Kabupaten Solok, hal itu pun Medianers konfirmasi kebenarannya.

" Ya, kebetulan saya diusulkan oleh orang kampung saya, untuk masuk ke sistim pemerintahan. Agar pembangunan di kampung halaman juga menjadi perhatian, atas dasar itu saya perlu masuk ke dalam sistem," katanya.

Disinggung soal apa yang akan diperbuatnya setelah masuk dalam sistim pemerintahan, Deni Atmam mengaku memaksimalkan potensi kopi yang ada di daerah pemilihannya, sebab potensi tersebut belum tergarap secara maksimal.

"Saya melihat potensi kopi lokal di Lolo sangat luar biasa, namun petani kopi tidak sejahtera, karena kopi tersebut dipasarkan dengan harga yang tidak layak, sementara penikmat kopi juga tidak mendapatkan rasa kopi original," ulasnya.

Deni menambahkan, "dan saya berniat membangun sistim dimana harga kopi yang didapatkan dari petani memiliki standar harga, dan bisa dipasarkan hingga nasional maupun internasional, tentunya pemangku kepentingan turun tangan mencarikan solusi melalui kebijakan yang menguntungkan untuk itu," tambahnya.

Melirik sepak terjang Deni Atmam membangun bisnis kopi lokal ini, dan memaknai visi kedepannya, maka Medianers jadi terkenang sosok Jack Ma, Ia guru bahasa Inggris berhenti bekerja, memilih menjadi pebisnis online lokal dari China, yang akhirnya mendunia melalui grup bisnis Alibaba.com, katanya "jika kamu ingin tumbuh, temukanlah kesempatan yang baik. Saat ini, jika kamu ingin menjadi perusahaan yang baik, pikirkanlah permasalahan sosial yang bisa kamu beri solusi," demikian katanya.

Hal tersebut menggambarkan, sosok Jack Ma, ada dalam diri Deni Atmam, yang juga meninggalkan zona nyaman, dan memikirkan secara sosial dan kultural tentang bisnis kopi, baik kesejahteraan petani kopi, maupun tentang cara memajukan kampung halamannya melalui bisnis waralaba kopi yang Ia rintis sejak tahun 2014. (Anton Wijaya)

Related Posts

Tambahkan Komentar Sembunyikan