Jangan Marah Ketika Anak Anda Dibilang ' Buruak'

Anak adalah "si buah hati". Entah dari mana istilah itu bermula, dan siapa orang pertama yang mempopulerkan saya tidak tau. Yang jelas, dimaksud dengan "si buah hati" versi saya adalah, anak merupakan anugrah terindah yang perlu diberi kasih sayang, perhatian, diberi nafkah, pendidikan, agama, diajari mandiri, agar kelak berguna bagi orang tua, bangsa dan negara. Intinya, anak adalah masa depan orang tua.


Ketika masa depan orang tua ini (baca: anak) mengalami sakit, maka Ayah dan Bundanya juga akan merasakan pilu. Apa saja akan dilakukan demi kesembuhannya. Sehingga muncul lagi istilah, " Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang badan."

Kadang Ayah dan Bunda batanggang tengah malam, karena anak rewel dan menangis. Apa lagi saat ia masih bayi, waktu akan ia balikan, siang dijadikan malam. Dan, malam dijadikan siang. Alhasil, malam hari ia ngomong tak karuan, jika tidak ditemani ia akan meraung. Dengan ikhlas, meskipun capek Ayah dan Bunda akan menemani si Bayi untuk bercerita, haa hoo..ooo hiii. Semuanya tercurah begitu saja, tanpa paksaan. 

Besarnya rasa care dan respect orang tua pada anak, se-sekali bisa membuat Ayah dan Bunda tidak realistis di tempat kerja. Terkadang tanpa disadari menceritakan tentang perkembangan anak. Padahal lawan bicara tidak tertarik membicarakan itu. Lebih suka membahas soal pekerjaan.

Seandainya ada reaksi negatif dari lawan bicara terhadap "si buah hati" rasanya bisa saja orang tua kehilangan akal sehat, memutuskan pergaulan dengan orang yang telah membuat onar tadi.

Dan seandainya lagi, Jika anak anda dibilang "Buruak anak ang lai" ( Buruk Anakmu). Buruak merupakan bahasa Minangkabau, sama dengan "Buruk" Bahasa Indonesia. Menurut KBBI Buruk berarti, 1 Rusak atau busuk karena sudah lama: memakai kain --; 2 (tentang kelakuan dsb) jahat; tidak menyenangkan: kelakuannya sangat --; 3 tidak cantik, tidak elok, jelek (tentang muka, rupa, dsb); 

Biasanya, kalimat Buruak anak ang lai diucapkan oleh karib kerabat di saat mengunjungi kelahiran, atau waktu pertama kali jumpa. Bagaimana perasaan anda selaku orang tua jika mendapati pernyataan itu?
 ***
Hidup dan besar di Ranah Minang banyak hal remeh-temeh yang harus diketahui, sama halnya hidup di daerah lain di Indonesia. Substansi dari kata buruk yang dilontarkan karib-kerabat tidak bermaksud menyakiti perasaan Ayah dan Bunda si Anak.  Jika dimaknakan sesuai pengertian KBBI, dipastikan siapa pun orang tua pasti akan meradang jika anaknya dikatakan buruk.

Buruk dalam konteks di atas adalah kiasan. Bermakna gagah,cantik, berbadan sehat dan bagus. Di kampung-kampung masih dipercaya, apabila balita diberi pujian seperti, " Aduh, anaknya sehat sekali, atau Bayinya gemuk sekali" akan pamalih, anak bisa sakit dan berat badannya bisa turun. Sehingga tua-tua kampung memilih kata kiasan buruk untuk memuji sang anak.

Sepupu saya yang telah lama tinggal di pulau Jawa, rona mukanya merah padam ketika anaknya disebut "Buruak anak ang lai" waktu pertama kali bersua dan disapa oleh keluarga saya di kampung (Pariaman). Melihat respon demikian, saya menduga sepupu saya ini tidak memahami makna buruak. Maklum, tidak semua orang Minangkabau yang bisa memaknainya.

Dugaan saya benar, sepupu saya langsung pamitan, meninggalkan rumah kami. Ia kelihatan marah sekali anaknya dibilang buruk. Se-isi rumah terpelongo melihat kepergiannya, akibat mis komunikasi.

Saya yakin, di lokasi lain di Minangkabau hal serupa pernah juga di alami orang lain. Mengingat orang Minang banyak bermigrasi ke luar daerah, kemungkinan telah terjadi pembauran budaya dan bahasa, sehingga hal sepele dalam berbahasa di Minang terabaikan.

Melalui postingan ini, saya hanya mempertegas, bahwa kata buruk yang ditujukan pada anak (Balita), bukanlah suatu penghinaan. Tapi, pujian.  

Buruaknyo-anak-ang-lai
Areta Anwi "Si buruak" anak Ayah dan Bunda/ Dok: pribadi


Related Posts

Tambahkan Komentar Sembunyikan