Monday, December 13, 2010

Penerapan Jasa pelayanan Rumah Sakit ? SIMRS jawabnya

Gambaran Kasus

Petugas bangsal A dapat jasa pelayanan besar, sedangkan petugas bangsal B dapat jasa pelayanan sedikit, dokter itu kok dapat banyak ya? dan dokter yang satu lagi dapat sedikit, perawat itu cuma merawat dibangsal, sedangkan kami selalu menghadapi pasien kritis di Intensif Care Unit tapi dapat jasa cuma sedikit, maka terjadilah duga-menduga, tuduh-menuduh karena ketidak puasan terhadap jasa pelayanan yang diterima.

Sebagai pengalaman saat bekerja di Rumah Sakit, baik di Rumah Sakit Swasta atau Rumah Sakit pelat merah, bahwa seluruh petugas yang telah melayani pasien, biasanya dapat insentif berupa uang yang disebut dengan jasa pelayanan atau jasa medis. Besar kecilnya pembagian jasa tergantung dari Rumah Sakit yang bersangkutan.

Petugas yang dapat menikmati jasa pelayanan adalah petugas yang telah melayani pasien dan petugas yang telah berkontribusi terhadap kelancaran sistim kerja di Rumah Sakit, artinya seluruh petugas dapat bagian, tapi besar dan kecilnya pendapatan tergantung dari jenjang pendidikan,resiko kerja,indeks dan lain-lain.

Data yang tidak akurat


Setiap pembagian jasa, kadang-kadang terjadi ketidak puasan, ketika dilontarkan pertanyaan kepada Tim pembagi jasa atau pada Manajemen Rumah Sakit yang berwenang, kadang-kadang yang bertanya tidak mendapat jawaban yang memuaskan, karena tidak dijawab dengan data konkret dan alasan yang logis.

Tim pembagi jasa, mengolah data berdasarkan data sekunder atau laporan keuangan bulanan, kemudian diolah secara manual dan dibagi berdasarkan jumlah total pendapatan masing-masing bangsal. Setelah nominal total pendapatan bangsal digodok, kemudian dipersentasekan berdasarkan indeks,tingkat pendidikan dan resiko kerja.

Disini saya mengamati ada kekurangan, bahwa Tim pembagi jasa hanya mematok jasa berdasarkan penghasilan total bangsal, bukan penghasilan total masing-masing individu yang benar-benar melakukan pelayanan.

Pembagian jasa yang ideal

Ini hanya sebagai contoh, petugas A telah melakukan tindakan pembedahan dengan jasa Rp 10.000 untuk satu orang pasien, dalam 8 jam dinas beliau telah melakukan pembedahan 5 kali pada pasien yang berbeda, berarti ia telah mendapatkan jasa sebanyak Rp.50.000 untuk satu kali dinas, jika selama 1 bulan beliau melayanani pasien yang berbeda dengan kasus yang sama dan tindakan yang sama, maka pendapatanya selama 1 bulan adalah Rp 1.500.000.

Contoh diatas tidak sesederhana yang saya tuliskan, sebab jenis pelayanan yang diberikan berbeda-beda dan tarif jasa juga beragam, kemudian yang akan mendapatkan jasa bukan 5 atau 10 orang petugas, tapi mencapai ratusan orang, karena tenaga yang bekerja di Rumah Sakit sangat banyak, sehingga saya sangat maklum Tim pembagi jasa atau pihak manajemen Rumah Sakit mematok secara garis besar saja.

Solusi

Mengolah data secara manual dengan membolak-balik laporan keuangan, saya akui sangat susah, susahnya karena tidak memamfaatkan teknologi.

Jika Rumah Sakit, baik milik swasta atau pemerintah menggunakan SIMRS (Sistim Informasi Manajemen Rumah Sakit) maka Tim pembagi jasa tidak akan pusing mengolah data dan seluruh petugas tidak akan berpikiran negatif, karena mereka dapat membuka data di komputer bangsal yang telah terintegrasi dan online keseluruh seluruh bangsal lainya yang ada di Rumah Sakit setempat, sehingga petugas dapat mengentri,mengkaji, memantau, mengetahui tentang apa yang telah ia kerjakan dan apa yang akan ia dapatkan.

Seandainya terjadi kekeliruan oleh Tim pembagi jasa, maka petugas yang telah dirugikan bisa mengajukan data tandingan berdasarkan copy data tentang tindakan dan pelayanan yang telah ia berikan pada pasien.

Statement Penulis

Penulis bukan Master Manajemen Rumah Sakit, tapi sedang berbagi pengalaman tentang masalah-masalah kecil yang sering ditemukan dibidang manajemen Rumah Sakit,khususnya tentang pembagian jasa pelayanan dan pengelolaan data serta pengadministrasian. Setelah berkeliaran di dunia maya dan melihat fenomena dilapangan, penulis tertarik untuk mempelajari tentang SIMRS (Sistim Informasi Manajemen Rumah Sakit). Jika ada senior yang telah lama berkecimpung dibidang Manajemen Rumah Sakit, Master manajemen keuangan dan pengadministrasian dan siapa saja yang mengetahui tentang SIMRS, yuk kita diskusi dan berbagi dipostingan ini, penulis ingin belajar.

Baca Juga:

7 comments:

  1. Sudah saatnya Rumah Sakit menggunakan manajemen yang lebih akurat dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai salah satu alat bantu agar tercipta pelayanan yang maksimal.

    ReplyDelete
  2. Saya sangat sependapat Kompilogi , kalau untuk Rumah Sakit Daerah masih banyak ditemukan cara pencatatan dan pelaporan secara manual.

    Saya pikir dalam menghadapi era digitalisasi sudah selayaknya pimpinan Rumah Sakit melakukan perubahan.

    ReplyDelete
  3. Selain manfaat datanya bisa memuaskan semua pihak, bisa juga untuk mengurangi syak-prasangka antar petugas RS yang notabene akan mengurangi dosa dari berprasangka buruk

    ReplyDelete
  4. Kalau bicara tentang jasa, gak ada ujungnya, apalagi jika dirapatkan. Beragam profesi dan basic berkumpul di Rumah Sakit. Dokter dan Perawat mungkin memiliki tarif yang sudah fix seperti di atas. Namun bagaimana dengan tenaga kerja dan profesi lainnya?sistem pembagian yang tidak jelas dan tidak memiliki prinsip berkeadilan membuat polemik intern, kinerja menurun dan lain-lain.
    Idealnya setiap profesi dan tingkatannya diberi poin sendiri (khususnya tenaga diluar medis dan perawat yang tidak memiliki tarif).
    Dimana setiap person memiliki hak dan kesempatan yang sama. Sebagai contoh :
    dikumpulkan semua bagian yang ada kemudian dilihat beban kerja dan kualifikasi pendidikan, serta nilai kontribusi yang dimiliki tiap bagian tersebut
    Kepala bagian A dengan kualifikasi pendidikan S2 diberi poin 3, kepala bagian B poin 2,5 kepala bagian C poin 2. selanjutnya staf bagian A dengan jabatan tertentu dibagiannya atau pangkat tertentu diberi poin 2,7 (selisih 0,3 dari kepala), selanjutnya staf A lainnya dengan pangkat yang lebih tinggi 2,5 dibawahnya 2,4 dst..
    begitu juga untuk bagian B, C, dst
    setiap orang disetiap bagian memiliki poin masing-masing yang bisa naik suatu saat karena kenaikan pangkat dan jabatannya di bagian yang bersangkutan. Semua poin dari tiap bagian ditotal misal didapat 1000 poin maka jika nilai jasa pelayanan yang akan dibagi tersisa 1M setelah dikurangi jasa pelayanan medis dan perawat yang sudah ada tarif, maka tiap 1 poin bernilai 1jt. Jika saya kepala bagian A maka Jasa saya adalah 3jt. Kepala bagian B 2,5jt, kepala bagian C 2jt dan selanjutnya tiap orang dikalikan pointnya masing2.
    Prinsip ini berkeadilan karena:
    1 Jika terjadi pertambahan pegawai baru ditempatkan di bagian C sebagai staf dapat point 0,7 maka secara merata pengurangan dibebankan kepada semua orang, bukan hanya bagian C, sehingga tidak terasa penurunannya.
    2 Jika suatu saat anda dipromosikan menjadi kepala bagian maka anda juga merasakan jasa pelayanan sebagai kepala bagian
    3. Jika anda naik pangkat maka poin anda naik, walaupun tidak jadi kepala bagian anda memiliki peluang untuk menerima jasa yang lebih
    4. sebaliknya jika anda tidak masuk kerja maka ada pengurangan jasa, berdasarkan hitungan hari kerja dan pengurangan jasa anda hanya dibagikan ke group bagian anda, karena logikanya terjadi pertambahan beban kerja karena anda tidak masuk di bagian anda bekerja.

    demikianlah gambaran pembagian jasa yang saya rasa ideal untuk profesi non tarif

    ReplyDelete
  5. kami sarankan dokter jgn rakus, contoh di radioterapi rs adam malik, dr r. mentang-mentang dokter mengklaim bagian dari jasa pelayanan 60% untuk dokter dengan berdalih jasa dokter ahli. tetapi pembagi hanya 3 orang. tetapi staf lain 40% yang pembaginya 18 orang. aneh benar2 rakus ya. info ini kami dapat dari para staff yang bekerja di sana karena mereka cemberut, tiba-tiba tanpa sepengetahuan mereka saya rekam.

    ReplyDelete
  6. baiknya jasa pelayanan dibagi berdasarkan gol dengan perbandingan masing2 gol 0,5 jt.... krn keadilan hnya isapan jempol saja.

    ReplyDelete
  7. simrs atau sirs atau apapun namanya tidak akan berjalan baik bila di rs pemerintah/ RSUD karena manajemen rs masih tergantungkan pada pemda setempat alias setor pemda.
    Tentang sistem poin saya setuju tapi itu harus berlaku buat keseluruhan rs dari direktur sampai cleaning service tanpa kecuali dan masing2 pegawai sudah mengantongi poin2. yang jadi masalah biasanya kita tidak tahu penghasilan rumah sakit pada bulan ini berapa, pengeluaran berapa laba berapa yang harusnya dibagi itu berapa.ini yang sering tidak transparan dari manjemen rs. kadang mengaplikasikan formula poin jasa pelayanan juga tidak transparan.

    ReplyDelete

Terima kasih atas waktu dan kunjungan anda. Ditunggu kedatangannya di lain waktu.