Pintarkah perawat Indonesia menulis

Dewasa ini tidak semua orang pintar menulis, mungkin karena malas atau karena tidak membiasakan diri untuk melakukanya, namun semua orang dipastikan pandai menulis asalkan pernah mengenyam pendidikan disekolah.

Menulis merupakan usaha untuk memberikan informasi kepada orang lain, serta salah satu jalan untuk mengkomunikasikan ide dan pikiran.


Antara pandai dan pintar menulis ada sedikit perbedaan makna. Pandai berarti bisa, yaitu bisa menulis diatas kertas, menulis dipapan tulis, mengetikan tulisan dikomputer dan dimana saja yang ia inginkan, sementara tulisan tersebut hanya mempunyai tujuan, tapi tidak mempunyai ide atau pemikiran yang kreatif.

Pintar dalam menulis memiliki maksud yang berbeda, dimana seseorang mampu melihat fenomena sosial yang ingin ia jadikan sebagai objek tulisan , kemudian apa yang ia tuliskan tersebut bisa berwujud artikel atau buku bacaan yang berisi pemikiran, serta ide yang dapat disimpulkan dan memberi mamfaat pada orang yang membacanya.

Jika diamati, kegiatan tulis-menulis ini tidak terlepas dari kehidupan perawat, tiap harinya mereka menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk menuliskan laporan pekerjaan, menuliskan rencana keperawatan, serta menuliskan pengobatan yang dijalani pasien dalam sebuah arsip. Kegiatan tersebut adalah rutinitas yang wajib dijalani perawat dalam hal pendokumentasian di tempat pelayanan kesehatan.

Fakta diatas, belum bisa diungkapkan bahwa perawat pintar menulis, sebab dari sekian ribu perawat yang ada di indonesia bisa dikatakan belum produktif dalam menulis, hal tersebut tergambar dari buku keperawatan yang ada di pustaka, kebanyakan sumbernya berasal dari luar negri yang diterjemahkan kebahasa indonesia, sedangkan karangan asli perawat indonesia masih minim mengisi daftar pustaka.

Hal tersebut di perkuat dengan realita yang ada, dimana perawat sangat jarang menulis artikel, opini dan informasi kesehatan di media massa, baik itu koran maupun tabloid, kalaupun ada, dari sekian ribu hanya segelintir perawat yang berkeinginan mengirimkan tulisanya .

Sebagai pengalaman, setiap hari saya meluangkan waktu minimal 15 menit untuk membaca koran, kebiasaan itu saya lakukan sejak 4 tahun yang lalu, bacaan yang paling saya sukai adalah artikel kiriman pembaca, setelah melihat gelar dari penulis artikel tersebut, tidak ada yang berlabel perawat, kemudian saya juga agen dari salah satu tabloid, setiap perawat yang berlangganan saya tawarkan, bahwa tabloid tersebut terbuka bagi perawat untuk menyalurkan tulisanya, jika berkeinginan menulis, nanti saya kirimkan untuk diseleksi oleh redaksi, sudah satu tahun jadi agen, namun belum ada sejawat yang tertarik untuk mengirimkan tulisanya.

Kondisi diatas, perlu bagi perawat untuk merenung dan meluangkan waktunya dari jeratan rutinitas, perawat yang ada di pelayanan baik itu rumah sakit, klinik dan puskesmas tidak harus terpaku dengan cukup senyum, ramah dan ulet dalam tindakan keperawatan saja, tapi untuk menjadi sebuah profesi yang dihargai dan berwibawa harus meluangkan waktunya untuk menjadi pintar menulis, mengeluarkan pemikiran dan ide-ide yang bermamfaat untuk dijadikan sebuah tulisan yang dimuat dalam buku, koran ataupun Tabloid agar publik mengakui secara intelektualitas perawat itu ada dan bagian dari profesi yang membawa pencerahan bagi orang lain dibidang keilmuan.

Menjadi pintar menulis itu hanya butuh latihan, perawat yang ada di indonesia pasti bisa, sebab pendidikan minimal perawat adalah sarjana muda dan pernah menulis karya tulis ilmiah atau skripsi. Untuk itu, mulailah sensitif terhadap fenomena sosial baik dilingkungan kerja maupun dilingkungan masyarakat sebagai objek yang akan dituliskan.

Mulai membuat konsep tulisan, kemudian minta tanggapan dari teman-teman terdekat serta percaya diri untuk mempublikasikan, kalaupun itu gagal, jangan malu untuk belajar dan menerima kritikan atau masukan dari orang lain, karena usaha dan kegigihan adalah kunci dari keberhasilan.

Besar harapan, agar tergeraknya hati perawat-perawat indonesia untuk pintar menulis, dengan adanya keinginan tersebut, semoga menambah jumlah buku karya perawat didaftar pustaka dan tulisan perawat banyak mengisi koran atau Tabloid sehingga penghargaan dan aktualisasi profesi itu datang dari masyarakat. (Postingan ini, juga di terbitkan di Tabloid Ners Volume XI).