Mengenang tragedi gempa dahsyat di Sumatera Barat (Part 1)

"Pada hari rabu, 30 September 2009, pukul 17.16 wib. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Gempa berlokasi di 22 Km Barat Daya Pariaman, Sumatra Barat atau 0.72LS-99.94 BT. Menurut harian Kompas, Korban meninggal sampai tanggal 11/10/2009 sebanyak 809 orang. Korban luka berat 891 orang, Korban luka ringan 1.366 orang. Rinciaan lengkap disini http://nasional.kompas.com/read/2009/10/11/17192097/korban.tewas.gempa.sumbar.menjadi.809.orang"
Memasuki wilayah perbatasan, antara Kabupaten Agam dengan Kabupaten Padang Pariaman, saya melihat badan jalan yang dibaluti aspal mengalami keretakan di beberapa titik. Begitu juga jembatan, lari dari kedudukan awal. Mobil yang melewati, dipastikan akan mengalami hentakan. Situasi yang demikian, tidak saya temukan di jalan Bukittinggi-Maninjau.

Setelah melewati pasar Tiku, bulu tangan saya merinding. Suasana terasa senyap. Lampu padam. Sulit memandang apa yang telah dialami warga sepanjang jalan. Sekilas kena cahaya lampu mobil, terlihat samar-samar beberapa bangunan roboh.  Ambulance yang saya tumpangi terus melaju melewati Gasan Gadang.

Di atas Ambulance. Kami berdiskusi untuk menentukan dimana tempat strategis untuk memberi bantuan?  Setelah menyampaikan pendapat masing-masing. Akhirnya, kami setuju dengan pendapat ketua tim, dr.Agus Supriadi, ia berkata, "apapun yang kita lihat di sepanjang perjalanan, kita tidak usah berhenti. Ingat! ini bukan wisata bencana. Pasti korban yang ada di RSUD Pariaman lebih membutuhkan pertolongan. Untuk itu, kita harus bergegas kesana."

Arloji saya menunjukan pukul 01.30 wib. Jembatan yang telah di lewati, kami bersua beberapa orang pemuda, mereka memberi aba-aba agar hati-hati melewati jembatan. Di saat itulah, kesempatan bertanya. "Apakah banyak korban warga sekitar sini Ajo?" Salah satu diantara mereka menjawab, "banyak pak, korban yang terkena runtuhan bangunan, dilarikan ke Puskesmas terdekat dan ke Rumah Sakit Umum."

Fakta itulah, yang membuat kami sepakat menuju RSUD Pariaman. Selain itu, Tim yang di utus oleh RSUD dr Adnaan WD, tempat saya bekerja, adalah Tim bedah. Sebut saja, dokter Agus, beliau spesialis bedah umum, ada pula dokter Harry, ia dokter umum khusus bencana. Ada Bismar, ia Perawat senior, mahir operasi. Ada Novera Akmal, beliau Perawat ahli Anestesi. Dan ada saya, juga Perawat Kamar operasi. Tanpa ada ahli pengemudi, tentunya kami tidak bisa menuju Kota Pariaman. Untuk itu, atas perintah 'emergency' dr. Yunier Salim, MARS, direktur RSUD dr Adnaan WD, maka Hanujar ditunjuk sebagai 'pilot' Ambulance kami.

Di Sungai- Limau, saya menatap simpang ke Sungai-Geringging dari balik kaca mobil. Doa dalam hati "Ya Allah, berilah keselamatan keluarga saya, yang ada di atas bukit sana". Lirih, kerongkongan ini seakan tercekat, sambil melihat simpang itu sampai hilang dari pandangan. Ingin rasanya, mengajak anggota tim untuk membelokan mobil melaju Sungai Geringging. Apa daya, saya telah berkomitmen sebelum berangkat, untuk melakukan pertolongan pada masyarakat, bukan untuk membawa tim menolong keluarga. 

Sebelum berangkat dari Payakumbuh, saya dapat kabar dari ponakan yang tinggal di Ujung Batu, Riau. Bahwa, "keluarga di Sungai Geringging baik-baik saja, hanya rumah yang rusak, sementara korban luka/nyawa tidak ada". Keponakan saya berhasil menjalin komunikasi sesaat setelah gempa dahsyat 7,9 SR. Sedangkan saya gagal menjalin komunikasi lewat telpon. Pernyataan langsung dari Amak, Abak dan dunsanak di Sungai geringging tidak saya dapatkan. Seharusnya, saya mengunjungi untuk memastikan keadaan sebenarnya. Akan tetapi, demi tugas, terpaksa saya abaikan. 

Tidak lama berselang, oto ambulance kami memasuki pelataran parkir RSUD Pariaman, berpas-pasan dengan mobil ambulance RSAM Bukittinggi. Tim Kesehatan dari RSAM  hanya 2 orang, salah satu diantaranya saya kenali, beliau Perawat anestesi, dipanggil "Pratap" oleh Novera Akmal. Target bantuan mereka adalah menjemput dan membawa korban gempa untuk dibawa ke RSAM. Sedangkan kami, membawa obat-obatan dan instrumen operasi lengkap, kecuali mesin anestesi, meja dan kamar operasi.

Korban gempa 30 september 2009 di RSUD Pariaman/ Dok: Medianers
Saya lihat mobil pick up, menurunkan 2 orang pasien penuh luka. Bergegas, kami menuju IGD. "Astagfirullah al adzim", ada yang meraung-raung kesakitan. Pasien berserakan, hingga di tidurkan di lantai, karena bed dan brankar terisi penuh oleh pasien korban bencana lainnya. Petugas IGD kalang-kabut memasang infus, membidai patah tulang, menjahit luka, bercak darahpun berserakan di lantai, se isi IGD tercium aroma anyir. Sungguh menakutkan. 

Rasanya hati ini bagaikan disayat sembilu, ketika melihat nenek dan seorang bocah kepalanya ditutup dengan sarung bantal tergeletak di samping pintu. Tidak ada yang bisa disalahkan. Satu  jam pasca gempa, tak henti-hentinya pasien berdatangan. Begitu juga mayat, akibatnya kamar mayat over load.

Saya perhatikan, dokter jaga IGD RSUD Pariaman bibirnya pucat, pelupuk mata gelap, jelas sekali, ia kelelahan. Seorang Perawat laki-laki rambutnya tak terurus, mondar-mandir, kesana-kemari, menyuntik pasien yang ini, menolong yang itu. Dia sempat menghadiahi saya senyuman, karena pernah ketemu dan berkenalan di Padang, namun saya lupa nama beliau.

Empat orang petugas IGD saya amati, baju putih mereka lusuh dan kotor. Perkiraan saya, mereka bekerja sejak siang, mereka bukan shift malam. Berhubung petugas dinas malam tidak datang (prediksi), maka mereka harus menahan kelelahan untuk menolong setiap pasien yang datang. Petugas malam tidak bisa disalahkan jika tak masuk dinas, bisa jadi mereka tertimpa musibah pula di rumah.

Pernyataan petugas IGD, bahwa  " di belakang, di bangsal bedah, juga telah sesak ditempati oleh pasien luka-luka dan patah tulang, mereka belum mendapatkan tindakan maksimal.  Seperti, debridement luka dan pasang gips. Karena, dokter bedah kami sedang berada di luar kota".

Kemudian, masih petugas yang sama, yang tidak saya tanyai namanya siapa, menambahkan " Kami tidak bisa merujuk korban ke Padang, karena bangunan RSUP M Djamil Padang pun ambruk, serta korban yang akan ditolong disana pun bejibun. Begitu juga Rumah Sakit lainnya di Padang, dikhawatirkan tidak lagi mampu menampung pasien." (Catatan bersambung ke Mengenang tragedi gempa dahsyat Sumatera Barat (Part 2 (Anton Wijaya)
Related Posts

Tambahkan Komentar Sembunyikan