Berbuat ikhlas dengan naluri keibuan

Pertanyaan yang belum mampu saya jawab dengan tulus sesuai hati nurani ialah, Apakah kita sudah berbuat dengan ikhlas?

Jika pertanyaan yang sama diajukan pada Florence Nightingle, mungkin ia menjawab, saya ingin mengabdikan diri pada masyarakat dengan segala kekuatan dan keikhlasan. Seandainya pertanyaan itu dikemukakan pula pada Mary Jane Seacole, mungkin jawabannya hampir sama yang intinya ingin mengabdikan diri pada masyarakat dengan sepenuh hati.

Kedua tokoh Keperawatan internasional itu, adalah wanita tangguh, mereka mampu menunjukan pada dunia, bahwa perawat memiliki peran penting dan kepedulian terhadap masyarakat, semasa pengabdiannya, beliau mendapat medali/penghargaan yang bergengsi dari raja inggris dan pemimpin negara eropa lainya, seperti Prancis, Jerman dan Turki atas tindakan beliau menolong korban perang dan penderita wabah penyakit kolera sebelum abad ke 18.

Dikaitkan dengan zaman sekarang, apa masih logis kata ikhlas dan mengabdi yang mendorong calon mahasiswa baru atau perawat pemula menyatakan, bahwa saya mengambil jurusan Keperawatan, karena ingin mengabdikan diri pada masyarakat, inilah pilihan terbaik untuk menuju kesana.

Jika dinilai secara subjektif, mungkin benar dan mungkin juga tidak, karena banyak cara lain berbuat ikhlas, tidak harus jadi perawat dulu. Seandainya kita berada pada profesi keperawatan, dengan tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi, sehingga segala sesuatunya dipandang secara materi, rasa ikhlas dan menolong itu telah digantikan oleh nilai besar dan kecilnya imbalan jasa, maka masih mampukah mengabdi dengan ikhlas?

Kata Ikhlas menjadi luntur dan tidak logis lagi oleh uang. Untuk jadi perawat saja di negri ini, butuh biaya yang banyak, disamping uang masuk kuliah yang mengempeskan saku celana, ditambah oleh biaya semester, uang praktek laboratorium, Puskesmas, Rumah Sakit, dana beli alat pemeriksaan fisik dan biaya buku serta anggaran fotocopy untuk tugas harian.

Berbeda jauh dengan eranya Florence nigtingle, dia jadi perawat tidak pernah belajar pendidikan formal keperawatan, tapi terpanggil atas penderitaan orang lain,sehingga tercetuslah kiat yang ia konsep, bahwa orang bisa sehat tidak dengan obat saja, tapi butuh perawatan dan sentuhan jiwa yang dikenal dengan naluri keibuan (mother insting).

Sekarang zaman modern, namun konsep Florence nigtingle itu tak lekang oleh waktu, bahwa ikhlas itu tidak saja dengan pengorbanan yang wah!, tapi bisa dimulai dengan hal kecil, pasien tidak selalu membutuhkan obat berupa pil, sirup, infus dan salep, tapi senyuman yang ikhlas, sentuhan kejiwaan, informasi yang jelas dan mudah ia pahami tentang penyakitnya.

Meskipun biaya kuliah semahal tuba, seharusnya perawat tetap bisa berbuat ikhlas, mereka yang datang ke klinik, puskesmas dan Rumah Sakit, bukan untuk di komersialkan, dikasari atau disapa dengan wajah masam, sepantasnya mereka disambut dengan naluri keibuan yang selalu peduli dan menyayangi.