Peran Orang Tua Meningkatkan Kecerdasan Anak Pada Usia Dini


Usia Dini dikenal juga dengan usia emas, yakni 0-3 tahun. Usia emas merupakan masa penting untuk membentuk karakter anak. Pada masa ini, proses belajar sambil bermain sudah mulai di praktekan. Jika bermain saja tidak ada nilai edukasi, di khawatirkan suatu hari nanti 'masa emas' itu akan menjadi 'perak'. Demikian sebaliknya, jika belajar saja, bisa- bisa suatu ketika 'masa emas' itu luntur menjadi 'imitasi' karena anak merasa tertekan.
permainan-anak-usia-dini
Areta Anwi, 26 bulan. Bermain Lego dengan Gibran.
Usia emas 'golden age' hanya sekali di lalui dalam hidup. Pendapat ahli beragam ada juga mengatakan 0- 6 tahun masih fase usia emas, merujuk dari perkembangan otak anak, yaitu 0-6 tahun otak anak berkembang pesat mencapai 80 persen. Maka saat otak berkembang, masa yang elok menanamkan memori yang baik untuk membentuk karakter dan kecerdasan anak.

Membentuk karakter anak, rumit memang, namun tidak sesulit yang di bayangkan. Menjaga, merawat,mendidik dan membesarkan anak pada usia emas butuh kesabaran. Menjalankan peran sebagai orang tua pasti, tidak saja membesarkan dan memberi makan tapi bagaimana mengembangkan karakter dan kemampuan anak agar kecerdasan meningkat melebihi kemampuan usianya.

Misal, anak usia 2 tahun dalam keadaan normal tanpa cacat atau kelainan medis belum bisa bicara untuk menyampaikan keinginan, seperti "mimik nda," atau " pipis yah", tentunya ada kemampuan komunikasi verbal yang belum berkembang. Atau sama sekali anak masih dalam buaian dan gendongan orang tua, anak malas berjalan dan bermain, cendrung rewel. Artinya kemampuan motorik halus, motorik kasar, kecerdasan dan bahasa verbal tidak berkembang dengan baik.

Sebaliknya, ada anak usia 2 tahun sudah mampu meloncat, berlari, bermain dengan teman sebaya, mampu mengenal warna, bisa mengucapkan hitungan "1,2,3 hingga 10" dan anak juga bisa bernyanyi meskipun ejaannya belum fasih 100 persen, bisa memegang pensil dan menggambar, juga mampu mengucapkan doa ketika akan mimik dan tidur, serta bisa berlagak membaca sambil memegang buku. Dapat di pahami sebagai, motorik halus, motorik kasar, dan bahasa verbal berkembang bagus yang cendrung di artikan kecerdasan anak meningkat. Jika di izin kan anak yang demikian pantas di sebut "anak cerdas melebihi umurnya."

Apakah itu bisa? Jelas bisa. Anda pernah nonton kontes da'i cilik di siarkan salah satu tv swasta? Pesertanya mampu hafal Al-quran beserta artinya dan juga pintar ceramah. Kenapa anak-anak cilik itu mampu? Mayoritas orang tua mereka telah memaparkan ayat-ayat al-quran sejak dalam kandungan hingga mereka lahir, dan pada usia emas da'i cilik tersebut pun sering disuguhi ayat-ayat al-quran oleh orang tuanya. Setiap hari yang dilihat, didengar adalah ayat al- quran demikian ungkapan orang tua da'i cilik saat diwawancarai.

Saat anak berlagak membaca buku. Apa yang harus dilakukan orang tua?  Cukup membelikan buku cerita anak-anak bergambar menarik, dan cukup 10 menit setiap hari  dengan buku yang berbeda mengajak anak bermain mengomentari gambar-gambar yang ada dalam buku, serta menceritakan sedikit demi sedikit pesan moral yang ada dalam buku. Hal demikian menanamkan karakter pada anak agar gemar membaca, senantiasa ia memiliki wawasan yang luas. Jika setiap hari anak terpapar dengan buku, maka yang tertanam dalam memorinya adalah baca dan membaca.

Demikian juga dengan menulis, jika anda menginginkan anak gemar menulis dan melukis, jangan larang ia memegang pulpen atau pensil, tapi belikan buku dan pensil warna, temani ia mencatat-coret buku, arahkan dan jangan dimarahi saat ia asyik bikin warna tak beraturan. Lakukan sesering mungkin, maka anak sudah terpapar dengan dunia menulis dan melukis yang akan berimplikasi pada dewasa nanti.

kenalkan huruf,angka, serta warna pada anak dengan alat peraga menarik, ajak bermain, beri pujian, jangan pernah memvonis ia bodoh. Biarkan, ikuti apa keinginannya, apakah ia suka berhitung mulai dari angka 6,7,8 atau 2,3,5,10. Atau ia suka membongkar  balok lego, tapi tidak mau merangkai, biarkan saja ia berproses, berkreasi dan mengembangkan imajinasinya. Dan, jangan pernah memberi label pada anak "kamu nakal." Karena memori otaknya akan menyimpan kata " nakal" dan ia pun terinspirasi berbuat nakal.

Rangsang anak untuk berbicara, bacakan terus cerita setiap ada peluang, ajarkan ia membaca doa makan, doa tidur,dll. Harapannya, setiap hari kosa kata anak bertambah dari waktu ke waktu.

Semuanya kembali kepada orang tua, anda menginginkan si anak seperti apa setelah ia besar nanti? Maka kesempatan terbesar itu ada pada usia emas menanamkan di memori otaknya. Apakah anda menginginkan anak anda menjadi seorang yang percaya diri, mandiri, cerdas, rapi, dan bijaksana saat ia dewasa nanti. Maka mulailah menanamkan pesan itu sejak usia emas.

Begitu juga sebaliknya, anda menginginkan anak anda menjadi seorang yang kasar, pemarah, tidak percaya diri, pemalas, cengeng dan tidak karuan, maka sering-seringlah anda membentak, menghardik, mengintimidasi dan mengeluarkan kalimat negatif lainnya.

Sesungguhnya, pendidikan usia dini ini peran mutlak dari orang tua, bukan lembaga pendidikan PAUD atau TK. Semoga orang tua mampu menjalankan perannya sebaik mungkin dalam keluarga. Amin.

Areta Anwi, 26 bulan.
Alena Anwi
Salam hormat,
Anton Wijaya, sedang menjalani proses.
Ayah dari Areta Anwi, 26 bulan.
Dan, Alena Anwi, 3 bulan.