Mengapa Berobat Pakai Kartu BPJS Tidak Memuaskan?

pasien-bpjs-di-operasi
Terkait postingan saya tempo lalu, " Apakah Sebaiknya Saya Pakai Kartu BPJS  ? " mendapat tanggapan 'miring' dari teman saya di Media Sosial, juga di ruang komentar. Terkait layanan yang diterima pengguna kartu BPJS belum maksimal, sebagaimana ideal yang diharapkan.

Tanggapan ' miring ' sah-sah saja, memang pelayanan yang didapat pengguna BPJS belum memuaskan, kadang pengguna asuransi ' rakyat' ini hilang kesabaran menunggu antrian panjang di poliklinik saat berobat.

Lain lagi saat mendapat resep, merasa obat yang di resepkan dokter bukan obat paten, dan lain sebagainya. Di banding berobat dengan biaya umum, atau menggunakan asuransi non BPJS pelayanan yang di dapat lumayan memuaskan, pasien bisa memilih dokter spesialis yang di inginkan, dan rujukan ke Rumah Sakit yang diharapkan.

Perlu diketahui, berobat menggunakan kartu BPJS sudah di paket ( di jatah) di atur dalam formularium, berlaku nasional. Jika dokter meresepkan diluar jatah, maka akan berlaku tarif umum. Pun demikian dengan jenis tempat rawat inap, jika menginginkan sesuai kehendak, bukan sesuai paket, maka akan berlaku tarif umum.

Bagi pengguna kartu BPJS dari kalangan yang kurang mampu, mungkin cukup merasa puas, dengan tidur dirawatan kelas 3, dengan resep obat generik, yang penting penyakitnya terobati dan biaya berobat cukup dengan angsuran premi terendah perbulan.

Sedangkan bagi kalangan menengah ke atas, pelayanan demikian jauh dari harapan, biasanya berobat tidak di jatah, tetapi di klaim berdasarkan berapa jumlah total biaya, dibayar oleh pihak asuransi mitra perusahaan tempat ia bekerja. Atau dengan mengeluarkan uang pribadi.

Bahkan, beberapa Rumah Sakit swasta menawarkan antar jemput bagi pasien dengan pelayanan 24 jam, serta memberikan ruang rawat inap senyaman hotel, tinggal pilih, mau berobat dengan dokter apa? Kelas berapa? Mau obat paten? Dan lain sebagainya, tinggal minta.

Sedangkan pengguna asuransi BPJS, pelayanan yang didapat semuanya diseragamkan, berdasarkan paket diagnosa penyakit, bukan berdasarkan keinginan pasien.

Fakta di atas menjadi dilema, tidak semua pengguna kartu BPJS ingin mendapat pelayanan seragam, sementara pemerintah berkeinginan menyeragamkan jenis asuransi di Indonesia, baik PNS, TNI/Polri, Karyawan Swasta , Masyarakat miskin dan Umum. Bahkan wacana pemerintah Rumah Sakit tidak boleh mengklasifikasikan tempat rawat inap berjenjang, seperti adanya kelas 2, kelas 1, kelas utama, VIP, dan VVIP, tetapi semuanya wajib kelas 3.

Kembali pada pertanyaan di atas, terkait postingan yang mengundang polemik, " Apakah Sebaiknya Saya Pakai Kartu BPJS ?" Jawabnya iya, bagi masyarakat yang kurang mampu, sedangkan bagi kalangan atas silahkan berobat menggunakan tarif umum, karena pihak asuransi BPJS memberi standar pelayanan seragam, berdasarkan paket pengobatan dan sistim rujukan yang telah ditentukan, diluar itu pasien akan ditetapkan selisih tarif atau biaya umum.

Jadi, Mengapa berobat pakai kartu BPJS tidak memuaskan? Karena kepuasaan tiap-tiap orang berbeda, antara orang menengah kebawah dengan kalangan atas, jauh berbeda. Artinya pelayanan yang diberikan tidak bisa diseragamkan. Bagi pasien yang kurang mampu, diterima berobat di Rumah sakit saja sudah bersyukur, tidak bagi orang yang berduit, ingin mendapatkan sesuatu sesuai dengan jumlah uang yang telah ia keluarkan. Pelayanan maksimal, sesuai semboyan " Pembeli adalah Raja".( AntonWijaya).