Mengatur diet makanan sehat dalam rangka menjaga berat badan ideal butuh kesungguhan dan disiplin

Makan lahap/
istockphoto
Berawal dari ketakutan akan terkena penyakit diabetes melitus, hipertensi dan stroke, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti program latihan fisik menjaga kesehatan tubuh di salah satu tempat fitness ( Gym) di kota tempat saya tinggal.

Yang mendasari ketakutan ini adalah karena saya sering melihat dan mengetahui banyak pasien yang di tolong di tempat saya bekerja disebabkan sakitnya karena gaya hidup, pola makan tidak terkontrol dan tidak melakukan olah raga. Contoh konkretnya adalah penderita diabetes mellitus ( penyakit gula), bahkan saudara kandung saya sudah mendapatkan penyakit ini, abses dipunggungnya, semula bisul, lama-lama jadi bengkak dan abses, karena kadar gula dalam darah tinggi, mencapai 400 gr/dL.

Sebelum menikah, sejak 3 tahun yang lalu, saya termasuk rajin berolah raga, seperti main futsal dan sepak bola. Setelah punya anak, olah raga mulai jauh dari kehidupan. Malahan makan tidak terkontrol, perut buncit, banyak duduk dan sering tidur setelah pulang kerja. Alhasil, dipinggang bergelambir, berat badan mencapai 76 kg.

Saat ini, tinggi badan saya  174 cm, dengan berat badan 76 kg, tentunya dengan kondisi demikian bukanlah berat badan ideal. Dari hasil analisa BMI (Body Mass Index), dilakukan secara online, yaitu mengukur berat badan ideal pakai tools online dengan cara memasukan tinggi badan dan berat badan pada kolom yang telah disediakan, isi data, lalu klik, maka hasil BMI saya adalah 25,1. Artinya, tubuh gemuk. Seharusnya jika saya menginginkan berat badan ideal, maka sebaiknya berat badan 70 kg, jika tinggi badan 174 cm. Maknanya saya harus menurunkan berat badan sebanyak 6 kg.

Menurunkan berat badan butuh kesungguhan dan disiplin

Menyadari bahaya dari kegemukan, akhirnya saya memutuskan kembali untuk program menurunkan berat badan dengan cara latihan fisik ( fitness) serta mengatur pola makan sehat. Program ini sudah berjalan satu minggu, memang masih dini. Namun ada satu hal menarik yang sulit untuk dilakukan dan saya yakin, banyak orang lain juga mengalami seperti yang saya rasakan, yakni menahan diri untuk menjaga pola makan sehat. Kalau latihan fisik atau olah raga, sesuatu hal yang mudah dan biasa kita lakukan, akan tetapi sehabis olah raga nafsu makan begitu meningkat, makanan apa saja terasa lahap dan enak. Disinilah kesalahan fatal terjadi, padahal tujuan berolah raga untuk membakar lemak dan menguatkan kerja jantung, namun sehabis olah raga lemak ditumpuk lagi, pastinya program menurunkan berat badan jadi sia-sia.

Ceritanya begini, sehabis fitness kurang lebih 2 jam, keringat bercucuran di pori-pori tubuh. Sebelum pulang, Instruktur mengingatkan saya, bahwa "Untuk menurunkan berat badan dan menggempeskan perut buncit anda, sebaiknya dirumah nanti jangan mengkonsumsi nasi, makanan bersantan, susu mengandung lemak, minuman manis mengandung gula, tapi konsumsilah protein, seperti sepotong dada ayam dan sepiring sayur bayam, sebagai pengganti makan malam anda." Ucapnya.

Saran demikian juga didengar oleh teman yang kebetulan mengikuti program " memberantas perut buncit", sama seperti saya. Mendengar saran instruktur, kami angguk-angguk dan membayangkan akan makan sayur dirumah. Saya sendiri sebenarnya paling tidak suka sayuran, istri sering komplain akan hal ini.

Setibanya dirumah, perut keroncongan, karena 2 jam menguras tenaga di tempat latihan, rasanya sangat wajar lapar dan butuh sumber daya energi baru. Pas masuk rumah, aroma kari tercium menggoda, saya langsung ke dapur. "Waduh" guman saya dalam hati, ternyata istri saya baru saja selesai memasak , kalio (kari) jengkol campur daging, aromanya sangat menggugah selera. Jakun saya turun naik, air liur nyaris meleleh membayangkan kelezatannya, maklum untuk masakan yang satu ini, istri saya sangat jago.

Selesai mandi dan berpakaian, saran instruktur jadi terabaikan karena kalio jengkol. Saat istri menyodorkan nasi ke dalam piring, " stop ! nasinya jangan terlalu banyak, cukup 1 sendok." Cegah saya. Saya mulai mengambil sepotong daging dan 3 keping jengkol. Ampun, rasanya begitu enak. Tidak pakai lama, saya langsung tambah nasi dan sepotong daging lagi, serta beberapa keping jengkol.

Lalu, istri ketawa kecil, " hemm.. katanya mengatur pola makan, diet sehat, lho kok nambah lagi ?" Cetusnya. " Habis, enak sih." Jawab saya sekenanya.

Maklum, sehabis olah raga makan terasa lahap, kebutuhan energi meningkat drastis, namun menu makanan yang saya lahap saat itu tidak tepat, sebagaimana anjuran instruktur.
Terkait : 10 cara menurunkan berat badan secara alami
Akhir cerita, saya tersandar kekenyangan, sempat tambuah dua piring. Setelah kenyang, baru menyadari telah melanggar saran instruktur. Berita buruk ini pun saya sampaikan kepada teman satu program latihan "berantas perut buncit." Teman ketawa mendengarkan cerita saya, lalu dengan serius ia menyarankan, inti dari masukannya adalah jika ingin mengatur diet sehat, dan pola makan sehat, hal utama yang harus disiapkan adalah sungguh-sungguh dan disiplin, sebab banyak diluar sana jenis makanan menggoda dan lezat, tapi belum tentu sehat.(AW)